-->
Pada umumnya, masyarakat luar Madura cenderung berpresepsi bahwa carok merupakan suatu tidak kekerasan yang dilakukan oleh orang Madura. Padahal sebenarnya tidak seperti itu, meskipun budaya carok tersebut seolah- olah melekat dalam kehidupan masyarakat Madura. Persepsi semacam itu tidak bisa dibenarkan secara mutlak. kalau melihat dari hasil penelitian dan studi-studi para ahli bidang ilmu sosial tentang kekerasan pada umumnya cenderung mengabaikan dimensi budaya dan erat hubungannya dengan faktor psikologi. Kemudian pandangan etnologi tentang kekerasan selalu lebih memperhatikan insting dan faktor-faktor biologis daripada faktor –faktor budaya. Dari sini jelas bahwa carok bukanlah mutlak sebagai bentuk dari kekerasan karena carok disini cenderung pada faktor-faktor budaya.
Budaya carok di madura mendapat tempat yang terhormat dan istimewa, sehingga setiap terjadi carok pasti menjadi buah bibir dan perbicangan masyarakat dan menanyakan siapan yang menang (se`mennang) dan siapan yang kalah (se`kala). Berita tersebut biasanya cepat menyebar di tengah-tengah masyarakat khususnya di daerah yang terjadi carok dan mereka tidak menyebut istilah pembunuh bagi pelaku yang berhasil membunuh lawannya, meraka pun tidak mengecam dan mengutuk perbuatan tersebut karena dianggap suatu bentuk keberanian dan menjaga harga diri. Keberadaan budaya carok di Madura, sebenarnya tidak bisa dilepaskan dengan histori masyarakat Madura pada zaman dahulu seperti beberapa legenda Madura dalam bukunya Zainalfattaf yang dapat disimpulkan bahwa awal terjadi carok di Madura dapat dikaji dari awal terbentuknya pulau Madura. Dari penghuni pertama pulau Madura yaitu Raden Segoro dan ibunnya yang berasal dari kerajaan Mandangkamula di Jawa.
Diceritakan dalam legenda tersebut, ketika Raden Segoro dan ibunya pindah dari Gunung Gegger Bangkalan ke Desa Nepa yang sekarang terletak di Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang. Pada waktu itu kerajaan Mandangkamula mendapat ancaman dari negeri Cina. Dan dalam beberapa peperangan kerajaan mandangkamula selalu mengalammi kekalahan, sehingga pada akhirnya meminta pertolongan pada Raden Segoro untuk melumpuhkan muksuh-musuhnya yang berasal dari negeri Cina. Dalam peristiwa ini dapat ditafsirkar bahwa apa yang dilakukan oleh Raden Segoro merupakan bukti adanya carok di Madura.
Selanjutnya, adanya budaya carok di Madura menjadi semakin lengkap dengan bukti-bukti sejarah modern, paling tidak sejak kedatangan VOC pertama kali menguasai pulau Madura. Yaitu setelah pemberontakan masyarakat Madura untuk memisahkan diri dengan kerajaan Mataram di Jawa. Salah satu kondisi masyarakat Madura pada saat itu di jelaskan oleh De Jonge sebagai seorang pejabat pemerintahan di keresidenan Bangkalan bahwa” pulau Madura bemberikesan tidak teratur dan kondisi keamanan sangat menyedihkan. Pengadilan tidak berfungsi sehingga setiap orang menghakimi perkaranya sendiri”. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa setiap hari terjadi carok dan mayat-mayat di buang di alun-alun kota .
Dari zaman dahulu hingga sekarang sebenarnya kasus carok semua diawali oleh suatu konflik. Meskipun latar belakang terjadi konflik tersebut berbeda. Namun semuanya mengacu pada akar yang sama, yaitu perasaan malo (malu) karena dianggap melecehkan harga diri, sehingga untuk membalas peleceha tersebut mereka melakukan carok, yang ternyata selalu mendapat dukungan dari masyarakat karena dianggap suatu bentuk keberanian dan menjaga harga diri.\
Sebelum carok dilaksana biasanya dilakukan persiapan baik dari benda-benda tajam yang akan digunakan, maupun strategi dalam menghadapi musuhnya. Strategi yang digunakam umumnya dengan cara berhadap-hadapan (ngongghai). Pelaku yang berhasil mengalahkan atau bahkan membunuh musuhnya menujukkan perasaan lega, bangga, dan puas meskipun sesudah itu pelaku tersebut berurusan dengan peradilan. Hukuman penjara bagi mereka tidak masalah, asalkan sudah mengalahkan atau membunuh musuhnya dalam carok tersebut.
Setelah carok berakhir biasanya, pelaku langsung menuju ke kantor kepolisian dengan maksud untuk meminta pelindungan dari kemungkinan serangan balasan dari pihak yang kalah. Tetapi biasanya kalau yang menang dalam carok adalah ore`ng jago (orang hebat), maka setelah carok langsung buron. Pelaku yang luka-luka langsung dilarikan kerumah sakit setempat, begitujuga dengan pelaku yang mati biasanya langsung dikubur di tempat penguburan umum, tetapi ada sebagian yang di kubur dekat rumah tempat tinggalnya, selain malu pada masyarakat karena kalah carok, juga dimaksudkan agar sanak keluarganya ingat terhadap peristiwa tersebut. Sehingga pada suatu saat ada salah satu keluarganya yang akan membalas akan kematian almarhum kepada pihak keluarga yang menang dalam carok. Budaya carok yang seperti ini suduh umum terjadi dalam masyarakat Madura khususnya di desa dan daerah perbukitan.
How to buy titanium trim | Technotron
BalasHapusIn babylisspro nano titanium spring curling iron these pages you'll see how to titanium white rocket league choose an alloy from the iron titanium manufacturer, the company which has all titanium white fennec the features: titanium titanium belly button rings trimapis,